Sabtu, 04 November 2017

Amfoterisin B

Amfoterisin B adalah golongan obat anti fungi (jamur) sistemik yang berasal dari fermentasi Streptomyces nodusus. Obat ini tersaji di pasaran sebagai serbuk berwarna kuning, tidak berasa dan tidak berbau dalam bentuk vial injeksi.Dalam klasifikasi efektifitasnya, obat ini dapat bersifat fungisidal dan fungistatik yang sangat tergantung dari dosis yang diberikan dan bergantung juga pada sensitifitas fungi, dimana obat  ini menyerang sel fungi yang sedang tumbuh maupun sel fungi yang sudah matang. Efek sinergis terjadi bila diberikan bersamaan dengan rimfapisin dan minosilin. Mekanisme kerja Amfoterisin B ialah dengan berikatan dengan gugus sterol pada membran sel fungi yang mengakibatkan proses regenerasi membran sel tidak dapat terbentuk dengan sempurna yang pada akhirnya menyebabkan lisisnya sel fungi. 
Dari segi farmakokinetik, absorbsi obat ini sangat buruk pada pemberian enteral, sehingga bentuk sediaan obat disajukan dalam bentuk vial yang diberikan secara parenteral. Dalam hal distribusi, obat ini dapat berada di seluruh  jaringan tubuh dan 95 % terikat lipoprotein. Metabolisme obat ini berlangsung di hati dan sebagian besar diekskresikan via ginjal. Efek samping yang kemungkinan muncul pada penggunaan Amfoterisin B berupa demam dan menggigil pada 50 % kasus, flebitis, penurunan fungsi ginjal, asidosis tubular ringan, anemia normositik normokrom. Amfoterisin B efektif hampir pada semua jenis jamur, dan pada kondisi klinis merupakan terapi awal untuk infeksi jamur berat, namun setelah infeksi dapat teratasi, dianjurkan untuk mengganti dengan golongan Imidazole, seperti Ketokonazole oral. Obat ini tersedia dalam bentuk vial bubuk  berisi 50 mg yang dilarutkan dengan 10 mL akuabidest dan diencerkan lagi dengan dekstrosa 5 %, diberikan dengan dosis umum 0,5 mg/kgBB/Hari diberikan selama minimal 2 bulan. 

Bahan  Pustaka
Setiabudy R, Bahry B.Obat jamur. Amfoterisin B. Farmakologi dan Terapi FK UI Edisi 5. 2008 ; 571-3.

0 komentar:

Posting Komentar