Senin, 18 September 2017

Ketokonazol

Penyusun : dr.Ilham Hariaji, MBiomed 
Ketokonazol merupakan obat anti jamur berspektrum luas yang merupakan golongan imidazol. Obat ini efektif pada infeksi jamur Candida, Coccidioides immitis, Cryptococcus neoformans, H. capsulatum, B. Dermatitidis, Aspergillus dan Sporothix spp. Saat ini ketokonazol masih digunakan mengingat harga yang relatif murah. 
Ditinjau dari segi farmakokinetik, penyerapan obat ini cukup baik namun bervasiasi pada berbagai individu dan akan berkurang pada kondisi saluran cerna yang basa atau jika diberikan bersama antasida. Distribusi obat ini juga cukup merata dan 84 terikat pada plasma albumin. Ketokonazol mengalami metabolisme lintas pertama di hati dan dieksresikan bersama cairan empedu ke dalam lumen usus dan hanya sebagian kecil yang diekresikan melalui urin.
Beberapa obat yang menginduksi enzim mikrosom hati (rifampizin, isoniazid, fenitoin) dapat menurunkan kadar ketokonazol sedangkan siklosporin, warfarin, midazolam, indinavir dapat meningkatkan kadar obat di dalam darah. Sedangkan obat-obat terfenadin, astemizol, sisaprid kontraindikasi diberikan bersamaan dengan ketokonazol.
Di Indonesia ketokonazol tersedia dalam tablet 200 mg, krim 2 % dan shampoo 2 %, Dosis anjuran dewasa satu kali 200-400 mg sehari, sedangkan dosis anak 3,3-6,6 mg/kgBB/hari, lama pengobatan 5 hari-12 bulan.
 Efek samping dalam penggunaan obat ini berupa gangguan gastrointestinal berupa mual, muntah, selain itu dapat dijumpai pula sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia, pruritus, parestesia, gusi berdarah, erupsi kulit dan trombositopenia, kerusakan hati, ginekomastia, gangguan haid, obat ini kontraindikasi bagi wanita hamil.

Daftar Pustaka
Setiabudy R, Bahry B. obat jamur, obat jamur, Farmakologi dan Terapi FK UI  Ed 5. 2008; 574-5

0 komentar:

Posting Komentar