Minggu, 09 April 2017

Metformin Dalam Penanganan Diabetes Melitus Tipe II

By: dr. Ilham Hariaji,MBiomed

Diabetes Melitus tipe 2 merupakan salah satu tipe gangguan relatif dari kerja insulin dalam tubuh dimana reseptor insulin tidak dapat berikatan dengan insulin dengan baik sehingga fungsi insulin untuk membawa glukosa ke dalam sel menjadi terganggu yang mengakibatkan sel menjadi kurang glukosa dan terjadinya penumpukan glukosa di dalam darah mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar glukosa darah.
Penanganan Diabetes Melitus tipe 2 diawali dengan perbaikan pola hidup, berupa pengaturan pola makan dan olah raga, namun jika perbaikan pola hidup saja belum dapat memperbaiki kadar glukosa darah, maka diperlukan terapi farmakologi yang salah satunya adalah Metformin.
Metformin merupakan golongan Biguanid, obat ini merupakan pilihan pertama dalam penanganan diabetes melitus tipe 2 yang baru terdiagnosis, mekanisme kerja metformin melalui pengaruhnya terhadap kerja insulin pada tingkat selular, distal dari reseptor insulin serta juga pada efeknya menurunkan produksi glukosa hati. Metformin juga meningkatkan pemakaian glukosa oleh sel usus sehingga menurunkan glukosa darah dan juga disangka menghambat absorpsi glukosa dari usus pada keadaan sesudah makan. Penggunaan Metformin relatif aman karena menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak menyebabkan hipoglikemia, oleh karenanya tidak digolongkan sebagai obat hipoglikemia namun digolongkan sebagai obat anti hiperglikemia.
Saat ini di Indonesia Metformin tersedia dalam sediaan tablet 500 mg dan 850 mg, juga tersedia dalam bentuk kombinasi dengan obat oral hipoglikemia lain. Dosis harian diawali dengan dosis rendah dan diberikan bersamaan saat makan, namun lazim diberikan dalam dosis awal 3x500 mg sehari beberapa saat setelah makan utama. Dosis harian metformin 250-3000 mg  dengan lama kerja 6-8 jam  dengan frekuensi pemberian 1-3 kali sehari.
Efek samping yang mungkin muncul paling sering adalah gangguan gastrointestinal berupa mual, muntah, diare serta kecap logam, hal ini dapat diatasi dengan penurunan dosis atau memberikan obat dari dosis rendah. Pemberian pada pasien gangguan fungsi ginjal dan kardiovaskular dapat menimbulkan peningkatan kadar asam laktat dalam darah yang dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dalam darah.
Kontraindikasi pemberian metformin pada kehamilan, pasien penyakit hepar berat, penyakit ginjal dengan uremia dan penyakit jantung kongestif, penyakit paru dengan hipoksia kronik. Pasien yang akan diberikan zat kontras intravena atau yang akan menjalani operasi sebaiknya dihentikan dahulu.

Daftar Pustaka
Suherman SK. Insulin dan antidiabetes oral. Farmakologi dan Terapi FK UI Edisi 5,2008;491-2
Sugondo S. Perinsip pengobatan diabetes insulin dan obat hipoglikemik oral.Penatalaksaan diabetes terpadu FKUI,2005;123-6


0 komentar:

Posting Komentar