Rabu, 10 Agustus 2016

Diuretik Hemat Kalium

dr.Ilham Hariaji, M.Biomed
Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Pendahuluan
Saat ini ada beberapa golongan diuretik yang termasuk dalam golongan diuretik hemat kalium, yaitu antagonis aldosteron, triamteren dan amilorid1.
Secara fisiologi aldosteron berkerja menstimulasi reabsorpsi Na+ , membangkitkan potensial negatif dalam lumen, yang mengarahkan ion K+ dan H+ ke dalam lumen ( dan kemudian diekresikannya) Antagonis Aldosteron bekerja berkompetisi memblokade ikatan aldosteron pada reseptor sitoplasma berkibat peningkatan eksresi Na+ (Cl- dan H2O) dan menurunkan sekresi K+ yang ‘diperkuat oleh muatan listrik’, golongan ini merupakan diuretik yang lemah karena hanya 2% dari reabsorbsi Na+ yang dikendalikan oleh aldosteron3.
Triamteren dan amilorid bekerja menurunkan permeabilitas lumen terhadap Na+  pada distal nefron dengan mengisi kanal Na+ dan menghambatnya dengan perbandingan 1:1, hal ini meningkatkan ekskresi Na+ (Cl- dan H2O) dan menurunkan ekskresi K+.3
Oleh karena kerjanya yang menurukan ekskresi K+ dan meningkatkan ekresi Na+ (Cl- dan H2O), maka kedua golongan obat ini disebut diuretik hemat kalium.
Farmakokinetika
Secara kimiawi spironolakton merupakan steroid sintetik yang bekerja mengantagonis Aldosteron, Onset of Action (mula kerja) dan Duration of Action (lama kerja) tergantung dari respon target jaringan terhadap aldosteron secara kinetik. Metabolisme spironolakton terjadi di hepar.4
Amilorid dan triamteren menghambat influks Na+ secara langsung di cortical collecting tubule. Triamteren di metabolisme di hati dan sebagian besar diekskresi kan melalui ginjal dalam bentuk aktif dan dalam bentuk meteabolit.Triamtere dimetabolisme dengan cepat sehingga diperlukan pemberian dosis yang lebih sering dibanding triamteren.4
Farmakodinamika
Diuretik hemat kalium mengalami absorbsi di tubulus dan duktus kolektif, absorbsi Na+ dan sekresi K+ pada duktus dan tubulus kolektif ginjal diatur oleh hormon aldosteron. Golongan obat antagonis aldosteron  mengganggu aktifitas aldosteron secara fisiologis. Sementara amilorit dan triamteren  tidak memblokade aldosteron namun mengganggu masuknya Na+  melalui epitelial Na+ channels (EnaC) di membran apikal tubulus kolektivus dimana sekresi K+ bekerja berpasangan dengan aktifitas ini.Aksi dari antagonis aldosteron bergantung kepada produksi prostaglandin di renal, dan aksi dari diuretik hemat kalium dihambat oleh NSAID bila diberikan secara bersamaan.4



Sediaan Obat
Obat yang termasuk golongan antagonis aldosteron adalah spironolakton yang saat ini tersedia di Indonesia dalam sediaan tablet 25 mg dan 100 mg serta golongan lain yaitu  amilorid hidroklorida tablet 5 mg dan 2,5 mg yang digabung dengan golongan diuretik tiazid 50 mg dan 25 mg2.
Efek Simpang1
Efek yang tidak diinginkan yang dapat terjadi adalah:
·         Hiperkalemia sampai keracunan kalium jika diberikan dengan asupan kalium yang berlebihan, atau dibungkan dengan tiazid pada pasien gangguan ginjal1.
·         Ginekomastia
·         Gangguan saluran cerna
·         Kejang kaki
·         Azotemia
·         Pusing
Interaksi Obat1,4
·         Golongan diuretik hemat kalium bermanfaat bila diberikan dengan diuretik dalam golongan lain.
·         Jangan menggabungkan sesama golongan diuretik hemat kalium karena dapat meningkatkan hiperkalemia bahkan keracunan kalium.
·         Penggabungan dengan ACE inhibitor meningkatkan resiko hiperkalemia.
·         Pemberian bersama suplemen kalium meningkatkan resiko hiperkalemia.
·         NSAID dapat menghambat bila diberikan bersamaan
Penggunaan Klinik1
1.      Sirosi Hepatis
2.      Hipertensi
3.      Edema
4.      Gagal jantung
5.      Sindrom Conn (hiperaldosteronisme primer)
Dosis dan Efek
Rentang dosis dewasa adalah 25mg-100mg dalam dosis tunggal ataupun dosis terbagi, namun dosis efektif rata-rata 100 mg sehari dalam dosis tunggal atau terbagi1.
 Daftar Pustaka
1.      Nafrialdi. Diuretik dan antidiuretik. Farmakologi dan Terapi FK UI edisi 5; 2008,p. 389-409.
2.      IAI. Diuretik. Informasi spesialite obat indonesia.vol 49; 2014-2015,p.244-46.
3.      Neal MJ.Obat yang bekerja pada ginjal-diuretik. At a Glance Farmakologi Medis edisi V;2006,p.34-5.

4.      Ives HE. Diuretic agen. Basic and clinical pharmacology. International edition 2012,p 261-3

0 komentar:

Posting Komentar