Farmakologi Terapi FK UMSU

Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah SUmatera Utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Laboratorium Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Laboratorium Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Gedung Fakultas kedokteran

Farmakologi Terapi FK UMSU

Pimpinan, Dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran(FK) Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Kegiatan Di Laboratorium Farmakologi dan Terapi FK UMSU

Farmakologi Terapi FK UMSU

dr. Ilham Hariaji, M.Biomed mendampingi mahasiswa yang sedang praktikum Di Laboratorium Farmakologi dan Terapi FK UMSU

Farmakologi Terapi FK UMSU

Kegiatan Di Laboratorium Farmakologi dan Terapi FK UMSU

Minggu, 29 April 2018

Mukolitik Dan Ekspektoran

by: dr. Ilham Hariaji, M.Biomed.

Batuk merupakan gejala dan tanda dari suatu penyakit, baik yang bersifat primer berasal murni dari saluran pernafasan maupun yang terjadi secara sekunder sebagai akibat penjalaran suatu penyakit di luar saluran pernafasan.
Dari segi produktivitas sputum atau dahak kita dapat membagi batuk menjadi batuk non-produktif dan batuk produktif, batuk non-produktif adalah jenis batuk yang tidak menghasilkan sputum atau dahak,biasanya diakibatkan karena proses iritasi maupun inflamasi pada saluran nafas bagian atas, kita sering mengenalnya dengan nama “batuk kering”. Sedangkan batuk produktif adalah batuk yang menghasilkan dahak atau sputum, sering diakibatkan karena adanya proses infeksi maupun inflamasi pada bronkus, brokiolus maupun alveolus.
                Dalam tata laksana batuk berdahak, peran mukolitik dan ekspektoran sangat membantu, disamping pengobatan secara etiologi baik berupa pemberian antimikroba maupun antiinflamasi. Mukolitik dan ekspektoran sering dianggap zat obat yang sama meskipun sebenarnya dari mekanisme kerja sangatlah berbeda.
                Mukolitik merupakan zat obat  yang bekerja dengan mekanisme mengencerkan sekret saluran nafas dengan jalan memecah benang-benang mukoprotein dan mukopolisakarida dari sputum sehingga seputum menjadi cair dan mudah dikeluarga maupun diabsorbsi oleh tubuh yang pada akhirnya membuat saluran nafas menjadi tidak terhalang oleh adanya sputum yang kental. Zat obat yang tergolong kedalam mukolitik adalahBromheksin,N-Asetilsistein, dan Ambroksol.
                Ekpektoran merupakan zat obat yang bekerja  merangsang pengeluaran sputum dari saluran nafas dengan meningkatkan stimulasi mukosa saluran nafas sehingga refleks batuk menjadi lebih sensitif dan meningkat yang mengakibatkan seluruh benda asing dalam saluran nafas dapat dikeluarkan. Zat yang tergolong kedalam ekspektoran adalah Ammonium Klorida dan Gliseril Guaikolat.
                Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa mukolitik bekerja berfokus pada sputum dengan membuat sputum menjadi encer, sedangkan ekspektoran bekerja meningkatkan reflek batuk. Obat golongan mukolitik maupun ekpektoran tersedia dalam bentuk tunggal maupun kombinasi antara ekpektoran dan mukolitik maupun dengan zat obat lainnya.


Sabtu, 04 November 2017

Amfoterisin B

Amfoterisin B adalah golongan obat anti fungi (jamur) sistemik yang berasal dari fermentasi Streptomyces nodusus. Obat ini tersaji di pasaran sebagai serbuk berwarna kuning, tidak berasa dan tidak berbau dalam bentuk vial injeksi.Dalam klasifikasi efektifitasnya, obat ini dapat bersifat fungisidal dan fungistatik yang sangat tergantung dari dosis yang diberikan dan bergantung juga pada sensitifitas fungi, dimana obat  ini menyerang sel fungi yang sedang tumbuh maupun sel fungi yang sudah matang. Efek sinergis terjadi bila diberikan bersamaan dengan rimfapisin dan minosilin. Mekanisme kerja Amfoterisin B ialah dengan berikatan dengan gugus sterol pada membran sel fungi yang mengakibatkan proses regenerasi membran sel tidak dapat terbentuk dengan sempurna yang pada akhirnya menyebabkan lisisnya sel fungi. 
Dari segi farmakokinetik, absorbsi obat ini sangat buruk pada pemberian enteral, sehingga bentuk sediaan obat disajukan dalam bentuk vial yang diberikan secara parenteral. Dalam hal distribusi, obat ini dapat berada di seluruh  jaringan tubuh dan 95 % terikat lipoprotein. Metabolisme obat ini berlangsung di hati dan sebagian besar diekskresikan via ginjal. Efek samping yang kemungkinan muncul pada penggunaan Amfoterisin B berupa demam dan menggigil pada 50 % kasus, flebitis, penurunan fungsi ginjal, asidosis tubular ringan, anemia normositik normokrom. Amfoterisin B efektif hampir pada semua jenis jamur, dan pada kondisi klinis merupakan terapi awal untuk infeksi jamur berat, namun setelah infeksi dapat teratasi, dianjurkan untuk mengganti dengan golongan Imidazole, seperti Ketokonazole oral. Obat ini tersedia dalam bentuk vial bubuk  berisi 50 mg yang dilarutkan dengan 10 mL akuabidest dan diencerkan lagi dengan dekstrosa 5 %, diberikan dengan dosis umum 0,5 mg/kgBB/Hari diberikan selama minimal 2 bulan. 

Bahan  Pustaka
Setiabudy R, Bahry B.Obat jamur. Amfoterisin B. Farmakologi dan Terapi FK UI Edisi 5. 2008 ; 571-3.

Jumat, 27 Oktober 2017

Penandatangan Nota Kesepahaman

Penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) Kerjasama Antara
Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia (FK UMI)
dan
Departemen Farmakologi Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FK UMSU)

 Puji syukur kepada Allah Subhanahuwataala, Tuhan Yang Maha Esa atas izin-Nya kerjasama antar Departemen Farmakologi dan Terapi  FK UMSU dan FK UMI dapat diwujudkan. Kerjasama ini merupakan bentuk Implementasi semangat bersama antar dua Departemen dan institusi untuk memajukan dunia Ilmu Kedokteran umumnya dan bidang Farmakologi dan Terapi khususnya, sehingga diharapkan terlahir dokter-dokter berkwalitas yang dapat berkontribusi dan dapat melayani kesehatan masyarakat dengan baik dan profesional.
Kerja sama yang dilakukan di bidang Tridarma Perguruan Tinggi berupa pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Disini kedua belah pihak dapat saling bertukar informasi, data dan sumber daya manusia yang diperlukan untuk kemajuan dunia pendidikan kedokteran.
Penandatanganan kedua departemen ini di lakukan oleh masing-masing Kepala Departemen yaitu dr.Ilham Hariaji, MBiomed sebagai Kepala Departemen Farmakologi dan Terapi FK UMSU dan Prof. Dr.dr.Hadyanto Lim, Mkes, SpFK, FESC, FIBA, FAHA selaku Kepada Departemen Farmakologi dan Terapi FK UMI, serta diketahui oleh Dekan Fakultas Kedokteran dari kedua belah pihak, nota kesepahaman dapat diakses di laman kerjasama FK UMSU dan FK UMI dengan meng klik lambang FK UMI di dalam situs ini.
Kita berharap semoga kerjama ini dapat berlangsung dengan baik dan dapat terus dilanjutkan, seperti kata-kata bijak, manusia digesek dengan manusia, dan sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan, Semoga Allah SWT meridhoi kerjasama ini..Amin.