Farmakologi Terapi FK UMSU

Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah SUmatera Utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Laboratorium Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Laboratorium Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Gedung Fakultas kedokteran

Farmakologi Terapi FK UMSU

Pimpinan, Dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran(FK) Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Kegiatan Di Laboratorium Farmakologi dan Terapi FK UMSU

Farmakologi Terapi FK UMSU

dr. Ilham Hariaji, M.Biomed mendampingi mahasiswa yang sedang praktikum Di Laboratorium Farmakologi dan Terapi FK UMSU

Farmakologi Terapi FK UMSU

Kegiatan Di Laboratorium Farmakologi dan Terapi FK UMSU

Minggu, 26 Agustus 2018

Asam Mefenamat

Asam Mefenamat merupakan obat golongan analgesia atau dikenal sebagai pereda nyeri, obat ini masuk  ke dalam obat antiinflamasi non steroid dimana bekerja mengambat proses inflamasi dengan mengahambat kerja enzim siklo-oksigenase sehingga prostagrandin sebagai salah satu mediator timbulnya nyeri dapat di tekan produksinya.
Dalam praktek Kedokteran, Asam Mefenamat merupakan salah satu obat yang sering diresepkan, terutama sebagai pilihan pada penanganan nyeri sedang dengan sekala VAS (Visual Analog Scale ) dengan skor 4-6, disamping harganya mudah dan banyak tersedia, obat ini juga bekerja secara efektif dalam meredakan nyari baik sebagai obat tunggal maupun bila ditambahkan dengan golongan pereda nyeri sederhana (simple analgetik) seperti Aspirin, ataupun Parasetamol, ataupun jika bersamaan dengan obat pereda nyeri penunjang (adjuvan) seperti Deksametason, maupun Diazepam.
Dipasaran Indonesia obat ini banyak tersedia dalam sediaan tablet ataupun kaplet 500 mg, dengan dosis dewasa berkisar 500-1500 mg per harinya.  Dikonsumsi secara oral setelah makan dalam dosis terbagi
Efek samping dari penggunaan asam mefenamat dalam jangka panjang adalah sama seperti golongan obat antiinflamasi non steroid lainnya barupa gejala gastrointestinal  (saluran cerna) hingga dapat timbul terjadinya gastritis erosiva, namun hal ini dapat dicegah dengan penggunaan yang disuaikan dengan indikasi yang tepat.

Amoxicillin

Amoxicillin merupakan salah satu jenis golongan antibakteria, merupakan antibakteri yang sangat dikenal dan sering digunakan di masyarakat, berdasarkan struktur kimianya Amoxicillin termasuk antibakteria golongan penisilin yang bekerja menganggu sintesis asam amino yang membentuk dinding bakteria sehingga menyebabkan dinding sel bakteria mudah rusak dan pecah.
Penggunaan Amoxicillin yang sangat luas berhubungan dengan spektrum luas yang dimiliki oleh antibakteri ini sehingga sifat bakterisidanya dapat membunuh bakteri gram positif dan negatif, selain itu faktor harga dan ketersediaannya juga menjadi alasan penggunaannya.
Secara farmakinetik obat ini dapat terserap dengan baik melalui saluran cerna sehingga secara administrasi sangat cocok diberikan secara oral, secara distribusi obat ini 20% terikat pada protein plasma sehingga lebih kurang 80% dalam bentuk bebas yang mengakibatkan onset of action nya relatif cepat,  sementara penetrasinya sangat baik hampir di semua organ tubuh manusia kecuali susunan syaraf pusatsementara ekresi nya utuh melalui urin.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian obat ini terutama tingginya tingkat alergi di masyarakat sehingga anamnesis dan uji sensitifitas obat sangat penting dilakukan sebelum penggunaannya.
Dosis lazim yang sering digunakan per oral adalah 0,25-0,5 g tid untuk dosis dewasa sedang kan pada anak adalah 20-40 mg/kg berat badan/hari dibagi dalam 3 dosis
Dalam Daftar Obat Esensial Nasional obat ini tersedia dalam sirup kering 125 mg/5 mL, sir kering 250 mg/5 mL, tab 250 mg, tab 500 mg.

Referensi
Buku Farmakologi dan Terapi FK UI, Edisi 6, 2016
Buku Farmakologi dan Terapi Katzung, 2006).

Minggu, 29 April 2018

Mukolitik Dan Ekspektoran

by: dr. Ilham Hariaji, M.Biomed.

Batuk merupakan gejala dan tanda dari suatu penyakit, baik yang bersifat primer berasal murni dari saluran pernafasan maupun yang terjadi secara sekunder sebagai akibat penjalaran suatu penyakit di luar saluran pernafasan.
Dari segi produktivitas sputum atau dahak kita dapat membagi batuk menjadi batuk non-produktif dan batuk produktif, batuk non-produktif adalah jenis batuk yang tidak menghasilkan sputum atau dahak,biasanya diakibatkan karena proses iritasi maupun inflamasi pada saluran nafas bagian atas, kita sering mengenalnya dengan nama “batuk kering”. Sedangkan batuk produktif adalah batuk yang menghasilkan dahak atau sputum, sering diakibatkan karena adanya proses infeksi maupun inflamasi pada bronkus, brokiolus maupun alveolus.
                Dalam tata laksana batuk berdahak, peran mukolitik dan ekspektoran sangat membantu, disamping pengobatan secara etiologi baik berupa pemberian antimikroba maupun antiinflamasi. Mukolitik dan ekspektoran sering dianggap zat obat yang sama meskipun sebenarnya dari mekanisme kerja sangatlah berbeda.
                Mukolitik merupakan zat obat  yang bekerja dengan mekanisme mengencerkan sekret saluran nafas dengan jalan memecah benang-benang mukoprotein dan mukopolisakarida dari sputum sehingga seputum menjadi cair dan mudah dikeluarga maupun diabsorbsi oleh tubuh yang pada akhirnya membuat saluran nafas menjadi tidak terhalang oleh adanya sputum yang kental. Zat obat yang tergolong kedalam mukolitik adalahBromheksin,N-Asetilsistein, dan Ambroksol.
                Ekpektoran merupakan zat obat yang bekerja  merangsang pengeluaran sputum dari saluran nafas dengan meningkatkan stimulasi mukosa saluran nafas sehingga refleks batuk menjadi lebih sensitif dan meningkat yang mengakibatkan seluruh benda asing dalam saluran nafas dapat dikeluarkan. Zat yang tergolong kedalam ekspektoran adalah Ammonium Klorida dan Gliseril Guaikolat.
                Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa mukolitik bekerja berfokus pada sputum dengan membuat sputum menjadi encer, sedangkan ekspektoran bekerja meningkatkan reflek batuk. Obat golongan mukolitik maupun ekpektoran tersedia dalam bentuk tunggal maupun kombinasi antara ekpektoran dan mukolitik maupun dengan zat obat lainnya.