Farmakologi Terapi FK UMSU

Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah SUmatera Utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Laboratorium Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Laboratorium Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Gedung Fakultas kedokteran

Farmakologi Terapi FK UMSU

Pimpinan, Dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran(FK) Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Senin, 15 Mei 2017

Amplodipin





by : dr.Ilham Hariaji,MBiomed 

Amlodipin merupakan golongan penghambat kanal kalsium atau calcium cannel bloker yang merupakan derivat dehiropiridin. Amlodipin saat ini digunakan sebagai antihipertensi dan golongan obat yang digunakan pada gagal jantung. Sebagai obat antihipertensi Amlodipin merupakan salah satu pilihan pertama.
Kelebihan Amlodipin dibandingkan derivat dehidropidin lain (nifedipin, nikardipin) adalah bioavailabilitas yang tinggi, waktu paruh yang panjang sehingga cukup digunakan 1 kali sehari saja, serta tidak mempengaruhi kadar digoksin dan tidak dipengaruhi oleh simetidin. Selain itu juga Amlodipin sebagai golongan pengahambat kanal kasium generasi baru penggunaan relatif aman dan memiliki selektifitas yang tinggi, sifat vaskuloselektif menguntungkan karena minimal mempengaruhi nodus AV dan SA, menurunkan resistensi perifer tanda banyak menganggu fungsi jantung yang berarti, dan relatif aman bila dikombinasikan dengan β-Bloker. Kadar puncak dicapai dengan cepat (rata-rata 10 menit) hal ini bagai pisau bermata dua, di satu sisi baik digunakan pada krisis hipertensi, di sisi lain dapat menyebabkan iskemia jantung dan otak, namun hal ini dapat diatasi dengan sediaan lepas lambat (Slow Release/SR) atau dimulai dengan dosis minimal. Amlodipin tidak mempengaruhi metabolik baik terhadap lipid, glukosa dan asam urat.
Obat ini baik absorpsinya bila dikonsumsi peroral, terlebih Amlodipin yang minimal mengalami metabolisme lintas pertama dihati, pemberiannya sebaiknya dikunyah kemudian di telan, sedangkan pemberian sublingual tidak mempercepat pencapaian efek maksimal.
Amlodipin dimetabolisme di hati sehingga harus hati-hati pada gangguan hati dan pada usia lanjut, sedangkan ekresinya sangat sedikit sekali melalui ginjal sehingga pada gangguan ginjal tidak perlu penyesuaian dosis.
Efek samping yang sering terjadi adalah hipotensi dan iskemia jantung dan serebral oleh sebab itu sebaiknya diberikan mulai dari dosis minimal dan jangan dikonsumsi melebihi dosis yang ditentukan. 
Di pasar obat Indonesia tersedia Amlodipin dalam sedian tablet 5 mg dan 10 mg dosis dapat diberikan mulai dari 2,5 mg 1 kali sehari sampai 10 mg 1 kali sehari. Karena mula kerja obat ini relatif cepat, sebaiknya obat ini dikonsumsi pada malam hari sebelum tidur untuk menghindari efek samping berupa hipotensi. 

Bahan Pustaka
Nafrialdi. Antihipertensi. Farmakologi dan Terapi FK UI Edisi 5. 2008 ; 358-60.
Suyatna FD. Antiangina. Farmakologi dan Terapi FK UI Edisi 5. 2008 ; 368-72.
http://hexpharmjaya.com/assets/upload/e4639-amlo-gr.jpg

Selasa, 25 April 2017

Kolkisin Sebagai Obat Pirai

By: dr.Ilham Hariaji, MBiomed
Kolkisin merupakan antiinflamasi yang khas di gunakan pada penyakit pirai, disebut kolkisin karena di peroleh dari tanaman colchium autumnale (bunga leli), mekanisme kerja obat ini adalah berikatan dengan protein mikrotubular dan menyebabkan depolimerisasi dan menghilangnya mikrotubular granulosit dan sel bergerak lainnya yang menyebabkan penghambatan migrasi granulosit ke tempat radang sehingga pelepasan mediator inflamasi dihambat sehingga respon inflamasi dihambat. Secara farmakokinetik obat ini diabsopsi baik melalui saluran cerna  dan terdistrinbusi baik di dalam tubuh, ekresi melalui tinja dan urin. Kolkisin diindikasikan pada penyakit pirai, pemberiannya diberikan mulai dari dosis kecil diberikan setiap jam sampai gejala hilang atau muncul efek samping berupa gejala gastrointestinal
Cara pemberian kolkisin dapat dilakukan dengan beberapa dosis:
1.       0,5-0,6 mg  tiap jam sampai gejala hilang atau sampai timbul efek semping.
2.       1,2 mg sebagai dosis awal diikuti dengan 0,5-0,6 mg tiap 2 jam sampai gejala hilang atau sampai timbul efek semping.
Dosis profilaksis dapat diberikan 0,5-1 mg sekali sehari
Dapat juga diberikan iv 1-2 mg dilanjutkan dengan 0,5 mg tiap 12 jam  dengan dosis maksimal 4 mg , pemberian IV harus diencerkan untuk mencegah iritasi dari larutan 2 ml menjadi 10 mL.
Di Indonesia kolkisin tersedia dalam bentuk tablet 0,5 mg 
Bahan Pustaka 
Wilmana PF, Gan S. Analgesik-antipiretik, analgetik antiinflamasi non steroid dan obat gangguan sendi lainnya.Farmakologi dan terapi fk UI edisi 5, 2008; 242-3

Minggu, 16 April 2017

Peran Glibenklamid Pada Diabetes Melitus Tipe II

By: dr.Ilham Hariaji, MBiomed 
Glibenklamid merupakan golongan sulfonilurea generasi II yang bekerja memicu sekresi insulin dengan cara :
  1. Meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas
  2. Meningkatkan performance dan jumlah reseptor insulin pada otot dan sel lemak.
  3. Meningkatkan efisiensi sekresi insulin dan potensiasi stimulasi insulin transpor karbohidrat ke sel otot dan jaringan lemak.
  4. Penurunan produksi  glukosa oleh hati
  5. Cara kerja pada umumnya melalui suatu alur kalsium yang sensitif terhadap ATP.
Glibenklamid merupakan obat pilihan pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan berat badan normal dan kurang  serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya. Namun pada penggunaan klinik glibenklamid merupakan pilihan kedua setelah pengobatan tunggal dengan golongan biguanid (metformin) gagal mengendalikan kadar gula darah. Glibenklamid sangat baik di absorbsi melalui saluran cerna dan absorbsinya maksimal dalam keadaan perut kosong sehingga direkomendasikan untuk dikonsumsi 30 menit sebelum makan utama, namun karena merupakan agen hipoglikemik yang poten oleh karenanya pasien perlu diingatkan untuk mengatur dengan ketat jadwal makanannya sehingga tidak terjadi hipoglikemik. Proses metabolisme terjadi di hati sedangkan proses ekresinya melalui ginjal, oleh karena itu glibenklamid tidak dianjutkan pada gangguan ginjal dan hati berat.
Dosis dan sediaan yang ada dipasaran adalah dalam bentuk tablet 2,5 mg dan 5 mg dengan dosis awal 1 kali sehari dimulai dengan dosis paling kecil. Efek samping yang sering terjadi adalah hipoglikemia dari mulai ringan sampai terjadinya koma, sering terjadi pada pasien yang tidak disiplin dalam mengatur jadwal makannya, interaksi akibat penggunaan yang bersamaan dengan insulin, alkohol, femformin, sulfonamid, salisilat dosis besar juga dapat menimbulkan hipoglikemia. Gejala gastrointestinal juga sering muncul berupa mual, muntah, dan diare. Gejala susunan saraf pusat seperti vetigo, bingung, ataksia dan sebagainya.Gelaja yang lain dapat berupa gejala hematologi dan gejala hipotiroid.

Daftar Pustaka
Suegondo S. Prinsip pengobatan diabetes,insulin dan obat hipoglikemik oral.Penatalaksaan diabetes melitus terpadu  FK UI. 2005;122-3
Suherman KS. Insulin dan antidiabetik oral.Farmakologi dan terapi FK UI, Edisi 5.2008;490-1