Farmakologi Terapi FK UMSU

Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah SUmatera Utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Laboratorium Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Laboratorium Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Gedung Fakultas kedokteran

Farmakologi Terapi FK UMSU

Pimpinan, Dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran(FK) Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Senin, 18 September 2017

Ketokonazol

Penyusun : dr.Ilham Hariaji, MBiomed 
Ketokonazol merupakan obat anti jamur berspektrum luas yang merupakan golongan imidazol. Obat ini efektif pada infeksi jamur Candida, Coccidioides immitis, Cryptococcus neoformans, H. capsulatum, B. Dermatitidis, Aspergillus dan Sporothix spp. Saat ini ketokonazol masih digunakan mengingat harga yang relatif murah. 
Ditinjau dari segi farmakokinetik, penyerapan obat ini cukup baik namun bervasiasi pada berbagai individu dan akan berkurang pada kondisi saluran cerna yang basa atau jika diberikan bersama antasida. Distribusi obat ini juga cukup merata dan 84 terikat pada plasma albumin. Ketokonazol mengalami metabolisme lintas pertama di hati dan dieksresikan bersama cairan empedu ke dalam lumen usus dan hanya sebagian kecil yang diekresikan melalui urin.
Beberapa obat yang menginduksi enzim mikrosom hati (rifampizin, isoniazid, fenitoin) dapat menurunkan kadar ketokonazol sedangkan siklosporin, warfarin, midazolam, indinavir dapat meningkatkan kadar obat di dalam darah. Sedangkan obat-obat terfenadin, astemizol, sisaprid kontraindikasi diberikan bersamaan dengan ketokonazol.
Di Indonesia ketokonazol tersedia dalam tablet 200 mg, krim 2 % dan shampoo 2 %, Dosis anjuran dewasa satu kali 200-400 mg sehari, sedangkan dosis anak 3,3-6,6 mg/kgBB/hari, lama pengobatan 5 hari-12 bulan.
 Efek samping dalam penggunaan obat ini berupa gangguan gastrointestinal berupa mual, muntah, selain itu dapat dijumpai pula sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia, pruritus, parestesia, gusi berdarah, erupsi kulit dan trombositopenia, kerusakan hati, ginekomastia, gangguan haid, obat ini kontraindikasi bagi wanita hamil.

Daftar Pustaka
Setiabudy R, Bahry B. obat jamur, obat jamur, Farmakologi dan Terapi FK UI  Ed 5. 2008; 574-5

Kamis, 13 Juli 2017

Captopril

Pendahuluan 
Kaptopril merupakan golongan penghambat kerja enzim pengubah Angiotensin atau lebih dikenal dengan Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACE-Inhibitor), bekerja dengan cara menghambat pelepasan ACE dari paru dan ginjal sehingga Angiotensin I tidak dirubah menjadi Angiotensin II  yang mengakibatkan vasodilatasi arteriol dan venule, selain itu kaptopril juga menurukan sekresi aldosteron sehingga terjadi sekresi urin,natrium dan retensi kalium. Kaptopril juga mengurangi degradasi bradikinin yang juga menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah.  
Kaptopril adalah ACE inhibitor yang pertama kali ditemukan dan digunakan luas di klinik dan bekerja secara langsung tanda harus diubah dahulu menjadi bentuk aktif di dalam tubuh. 

Farmakokinetik
            Kaptopril diabsobsi dengan baik bila diberikan oral dengan tingkat bioavailabilitas mencapai 70-75 %. Namun sebaiknya obat ini diberikan 1 jam sebelum makan oleh karean makanan dapat menurunkan absorpsi hingga 30 %. Metabolisme obat ini terjadi di hati dan eksresi terutama melalui ginjal.
Efek Samping
Batuk kering merupakan efek samping yang sering muncul sebagai akibat peningkatan bradikinin dan substansi P dan I serta prostaglandin. Efek samping yang lain berupa hipotensi, hiperkalemia, rash, edema angioneuretik, gagal ginjal akut, protein uria, efek teratogenik.
Indikasi
            Kaptopril diindikasikan pada pasien hipetensi ringan, sedang dan berat, hipertensi dengan diabetes melitus karena memiliki efek mengurangi retensi insulin, hipertensi dengan dislipidemia, hipetensi dengan obesitas, hipetensi dengan gagal jantung kongesti,hipertensi dengan hipertrofi ventrikel kiri, penyakit jantung koroner, selain itu kaptoril juga dapat digunakan untuk mengurangi protein uria dan sindrom nefrotik.


Kontraindikasi dan Perhatian
Kaptopril dikontraindikasikan bagi wanita hamil dan menyusui, stenosis arteri renalis bilateral dan unilateral pada keadaan ginjal tunggal. Pemberian obat ini harus hati-hati pada hiperkalemia atau orang yang mendapat diuretik hemat kalium.
Sedian dan Dosis
            Dipasaran obat, kaptopril tersedia dalam bentuk sediaan tablet 12,5 mg , 25 mg,dan 50 mg dosis dapat diberikan 2-3x 12,5 mg sampai dengan 2-3 x 25 mg sehari.

Daftar Pustaka
Nafrialdi. Antihipertensi. Penghambat Angiotensin Converting Enzyme. Farmakologi dan Terapi FK UI. Ed 5. 2008;354-6

Senin, 15 Mei 2017

Amplodipin





by : dr.Ilham Hariaji,MBiomed 

Amlodipin merupakan golongan penghambat kanal kalsium atau calcium cannel bloker yang merupakan derivat dehiropiridin. Amlodipin saat ini digunakan sebagai antihipertensi dan golongan obat yang digunakan pada gagal jantung. Sebagai obat antihipertensi Amlodipin merupakan salah satu pilihan pertama.
Kelebihan Amlodipin dibandingkan derivat dehidropidin lain (nifedipin, nikardipin) adalah bioavailabilitas yang tinggi, waktu paruh yang panjang sehingga cukup digunakan 1 kali sehari saja, serta tidak mempengaruhi kadar digoksin dan tidak dipengaruhi oleh simetidin. Selain itu juga Amlodipin sebagai golongan pengahambat kanal kasium generasi baru penggunaan relatif aman dan memiliki selektifitas yang tinggi, sifat vaskuloselektif menguntungkan karena minimal mempengaruhi nodus AV dan SA, menurunkan resistensi perifer tanda banyak menganggu fungsi jantung yang berarti, dan relatif aman bila dikombinasikan dengan β-Bloker. Kadar puncak dicapai dengan cepat (rata-rata 10 menit) hal ini bagai pisau bermata dua, di satu sisi baik digunakan pada krisis hipertensi, di sisi lain dapat menyebabkan iskemia jantung dan otak, namun hal ini dapat diatasi dengan sediaan lepas lambat (Slow Release/SR) atau dimulai dengan dosis minimal. Amlodipin tidak mempengaruhi metabolik baik terhadap lipid, glukosa dan asam urat.
Obat ini baik absorpsinya bila dikonsumsi peroral, terlebih Amlodipin yang minimal mengalami metabolisme lintas pertama dihati, pemberiannya sebaiknya dikunyah kemudian di telan, sedangkan pemberian sublingual tidak mempercepat pencapaian efek maksimal.
Amlodipin dimetabolisme di hati sehingga harus hati-hati pada gangguan hati dan pada usia lanjut, sedangkan ekresinya sangat sedikit sekali melalui ginjal sehingga pada gangguan ginjal tidak perlu penyesuaian dosis.
Efek samping yang sering terjadi adalah hipotensi dan iskemia jantung dan serebral oleh sebab itu sebaiknya diberikan mulai dari dosis minimal dan jangan dikonsumsi melebihi dosis yang ditentukan. 
Di pasar obat Indonesia tersedia Amlodipin dalam sedian tablet 5 mg dan 10 mg dosis dapat diberikan mulai dari 2,5 mg 1 kali sehari sampai 10 mg 1 kali sehari. Karena mula kerja obat ini relatif cepat, sebaiknya obat ini dikonsumsi pada malam hari sebelum tidur untuk menghindari efek samping berupa hipotensi. 

Bahan Pustaka
Nafrialdi. Antihipertensi. Farmakologi dan Terapi FK UI Edisi 5. 2008 ; 358-60.
Suyatna FD. Antiangina. Farmakologi dan Terapi FK UI Edisi 5. 2008 ; 368-72.
http://hexpharmjaya.com/assets/upload/e4639-amlo-gr.jpg