Farmakologi Terapi FK UMSU

Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah SUmatera Utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Laboratorium Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Laboratorium Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Farmakologi Terapi FK UMSU

Gedung Fakultas kedokteran

Farmakologi Terapi FK UMSU

Pimpinan, Dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran(FK) Universitas Muhammadiyah Sumatera utara

Sabtu, 04 November 2017

Amfoterisin B

Amfoterisin B adalah golongan obat anti fungi (jamur) sistemik yang berasal dari fermentasi Streptomyces nodusus. Obat ini tersaji di pasaran sebagai serbuk berwarna kuning, tidak berasa dan tidak berbau dalam bentuk vial injeksi.Dalam klasifikasi efektifitasnya, obat ini dapat bersifat fungisidal dan fungistatik yang sangat tergantung dari dosis yang diberikan dan bergantung juga pada sensitifitas fungi, dimana obat  ini menyerang sel fungi yang sedang tumbuh maupun sel fungi yang sudah matang. Efek sinergis terjadi bila diberikan bersamaan dengan rimfapisin dan minosilin. Mekanisme kerja Amfoterisin B ialah dengan berikatan dengan gugus sterol pada membran sel fungi yang mengakibatkan proses regenerasi membran sel tidak dapat terbentuk dengan sempurna yang pada akhirnya menyebabkan lisisnya sel fungi. 
Dari segi farmakokinetik, absorbsi obat ini sangat buruk pada pemberian enteral, sehingga bentuk sediaan obat disajukan dalam bentuk vial yang diberikan secara parenteral. Dalam hal distribusi, obat ini dapat berada di seluruh  jaringan tubuh dan 95 % terikat lipoprotein. Metabolisme obat ini berlangsung di hati dan sebagian besar diekskresikan via ginjal. Efek samping yang kemungkinan muncul pada penggunaan Amfoterisin B berupa demam dan menggigil pada 50 % kasus, flebitis, penurunan fungsi ginjal, asidosis tubular ringan, anemia normositik normokrom. Amfoterisin B efektif hampir pada semua jenis jamur, dan pada kondisi klinis merupakan terapi awal untuk infeksi jamur berat, namun setelah infeksi dapat teratasi, dianjurkan untuk mengganti dengan golongan Imidazole, seperti Ketokonazole oral. Obat ini tersedia dalam bentuk vial bubuk  berisi 50 mg yang dilarutkan dengan 10 mL akuabidest dan diencerkan lagi dengan dekstrosa 5 %, diberikan dengan dosis umum 0,5 mg/kgBB/Hari diberikan selama minimal 2 bulan. 

Bahan  Pustaka
Setiabudy R, Bahry B.Obat jamur. Amfoterisin B. Farmakologi dan Terapi FK UI Edisi 5. 2008 ; 571-3.

Jumat, 27 Oktober 2017

Penandatangan Nota Kesepahaman

Penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) Kerjasama Antara
Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia (FK UMI)
dan
Departemen Farmakologi Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FK UMSU)

 Puji syukur kepada Allah Subhanahuwataala, Tuhan Yang Maha Esa atas izin-Nya kerjasama antar Departemen Farmakologi dan Terapi  FK UMSU dan FK UMI dapat diwujudkan. Kerjasama ini merupakan bentuk Implementasi semangat bersama antar dua Departemen dan institusi untuk memajukan dunia Ilmu Kedokteran umumnya dan bidang Farmakologi dan Terapi khususnya, sehingga diharapkan terlahir dokter-dokter berkwalitas yang dapat berkontribusi dan dapat melayani kesehatan masyarakat dengan baik dan profesional.
Kerja sama yang dilakukan di bidang Tridarma Perguruan Tinggi berupa pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Disini kedua belah pihak dapat saling bertukar informasi, data dan sumber daya manusia yang diperlukan untuk kemajuan dunia pendidikan kedokteran.
Penandatanganan kedua departemen ini di lakukan oleh masing-masing Kepala Departemen yaitu dr.Ilham Hariaji, MBiomed sebagai Kepala Departemen Farmakologi dan Terapi FK UMSU dan Prof. Dr.dr.Hadyanto Lim, Mkes, SpFK, FESC, FIBA, FAHA selaku Kepada Departemen Farmakologi dan Terapi FK UMI, serta diketahui oleh Dekan Fakultas Kedokteran dari kedua belah pihak, nota kesepahaman dapat diakses di laman kerjasama FK UMSU dan FK UMI dengan meng klik lambang FK UMI di dalam situs ini.
Kita berharap semoga kerjama ini dapat berlangsung dengan baik dan dapat terus dilanjutkan, seperti kata-kata bijak, manusia digesek dengan manusia, dan sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan, Semoga Allah SWT meridhoi kerjasama ini..Amin.






Senin, 18 September 2017

Ketokonazol

Penyusun : dr.Ilham Hariaji, MBiomed 
Ketokonazol merupakan obat anti jamur berspektrum luas yang merupakan golongan imidazol. Obat ini efektif pada infeksi jamur Candida, Coccidioides immitis, Cryptococcus neoformans, H. capsulatum, B. Dermatitidis, Aspergillus dan Sporothix spp. Saat ini ketokonazol masih digunakan mengingat harga yang relatif murah. 
Ditinjau dari segi farmakokinetik, penyerapan obat ini cukup baik namun bervasiasi pada berbagai individu dan akan berkurang pada kondisi saluran cerna yang basa atau jika diberikan bersama antasida. Distribusi obat ini juga cukup merata dan 84 terikat pada plasma albumin. Ketokonazol mengalami metabolisme lintas pertama di hati dan dieksresikan bersama cairan empedu ke dalam lumen usus dan hanya sebagian kecil yang diekresikan melalui urin.
Beberapa obat yang menginduksi enzim mikrosom hati (rifampizin, isoniazid, fenitoin) dapat menurunkan kadar ketokonazol sedangkan siklosporin, warfarin, midazolam, indinavir dapat meningkatkan kadar obat di dalam darah. Sedangkan obat-obat terfenadin, astemizol, sisaprid kontraindikasi diberikan bersamaan dengan ketokonazol.
Di Indonesia ketokonazol tersedia dalam tablet 200 mg, krim 2 % dan shampoo 2 %, Dosis anjuran dewasa satu kali 200-400 mg sehari, sedangkan dosis anak 3,3-6,6 mg/kgBB/hari, lama pengobatan 5 hari-12 bulan.
 Efek samping dalam penggunaan obat ini berupa gangguan gastrointestinal berupa mual, muntah, selain itu dapat dijumpai pula sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia, pruritus, parestesia, gusi berdarah, erupsi kulit dan trombositopenia, kerusakan hati, ginekomastia, gangguan haid, obat ini kontraindikasi bagi wanita hamil.

Daftar Pustaka
Setiabudy R, Bahry B. obat jamur, obat jamur, Farmakologi dan Terapi FK UI  Ed 5. 2008; 574-5